Di tengah kompleksitas dunia yang semakin terhubung, mengenalkan keberagaman dan menanamkan nilai toleransi serta empati kepada anak usia dini menjadi fondasi krusial bagi masa depan yang harmonis. Anak-anak lahir tanpa prasangka, namun mereka menyerap norma dan sikap dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, tugas orang tua dan pendidik adalah menciptakan lingkungan yang kaya akan pengalaman positif dengan perbedaan, sehingga anak dapat tumbuh menjadi individu yang menghargai setiap individu, terlepas dari latar belakang suku, agama, warna kulit, kemampuan, maupun kondisi sosial ekonominya. Pengenalan dini terhadap keberagaman bukanlah pilihan, melainkan keharusan dalam membentuk karakter anak.
Secara psikologis, fase anak usia PAUD adalah periode sensitif untuk pembentukan sikap sosial. Menurut teori perkembangan Erik Erikson, pada usia ini anak-anak bergulat dengan inisiatif versus rasa bersalah, di mana mereka mulai mengeksplorasi dunia sosial mereka dan membentuk pandangan tentang diri sendiri dan orang lain. Buku "NurtureShock" menyoroti bahwa anak-anak di bawah usia 5 tahun sudah mulai menunjukkan kesadaran ras, bahkan mungkin mengembangkan preferensi kelompok tanpa adanya instruksi eksplisit dari orang dewasa. Oleh karena itu, tidak membahas keberagaman sama sekali justru dapat membuka ruang bagi terbentuknya stereotip negatif berdasarkan asumsi anak sendiri.
