Banyak orang tua merasa malu atau khawatir saat melihat anak mereka yang duduk di bangku PAUD enggan membagikan mainannya kepada teman sebaya. Sering kali, label "pelit" atau "tidak mau berbagi" disematkan tanpa memahami bahwa perilaku tersebut adalah bagian alami dari perkembangan kognitif manusia. Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai fase egosentris, di mana anak-anak secara biologis belum mampu melihat dunia dari perspektif orang lain. Memahami fase ini bukan berarti memaklumi sifat egois, melainkan mengenali bahwa berbagi adalah sebuah keterampilan kompleks yang membutuhkan kematangan otak dan latihan yang konsisten.
Jean Piaget, tokoh utama dalam teori perkembangan kognitif, menjelaskan bahwa anak usia 2 hingga 7 tahun berada dalam tahap pra-operasional. Pada tahap ini, pikiran anak bersifat egosentris, yang berarti mereka secara harfiah menganggap bahwa apa yang mereka lihat, rasakan, dan inginkan adalah sama dengan apa yang dirasakan orang lain. Jika seorang anak PAUD memegang mainan favoritnya, ia belum bisa memahami rasa sedih temannya yang ingin meminjam karena fokus perhatiannya sepenuhnya terserap pada kepuasannya sendiri. Memaksa anak berbagi pada fase ini justru dapat menciptakan rasa tidak aman terhadap kepemilikan barang.
Riset neurosains terbaru menunjukkan bahwa area otak yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan empati, yaitu korteks prefrontal, masih dalam tahap perkembangan awal pada anak usia dini. Kemampuan untuk menunda keinginan (delayed gratification) dan memahami perasaan orang lain (theory of mind) belum terbentuk sempurna. Jurnal Social Development (2022) menyoroti bahwa anak-anak baru mulai mengembangkan pemahaman sejati tentang keadilan dan timbal balik (reciprocity) secara bertahap. Oleh karena itu, mengharapkan anak PAUD untuk berbagi secara spontan tanpa bimbingan adalah tuntutan yang tidak realistis secara biologis.
Penting bagi orang tua untuk membedakan antara "berbagi" dengan "menyerah pada tekanan". Buku The Whole-Brain Child menekankan bahwa anak perlu merasa memiliki kontrol atas barang-barangnya terlebih dahulu sebelum mereka bisa merasa nyaman melepaskannya. Rasa memiliki yang kuat adalah fondasi dari pembentukan identitas diri. Jika orang tua selalu memaksa anak memberikan mainannya hanya demi etika sosial, anak mungkin akan belajar bahwa kebutuhan orang lain selalu lebih penting daripada kebutuhannya sendiri, atau sebaliknya, ia akan menjadi lebih posesif karena takut kehilangan kontrol.
Proses belajar berbagi dimulai dengan pengenalan konsep turn-taking atau bergantian. Daripada menggunakan instruksi "Berbagi dong mainannya!", akan lebih efektif jika orang tua menggunakan kalimat "Sekarang giliranmu, setelah ini giliran temanmu ya." Jurnal Early Childhood Research Quarterly (2021) menemukan bahwa anak-anak yang dilatih melakukan aktivitas bergantian memiliki tingkat prososial yang lebih tinggi di kemudian hari. Konsep bergantian memberikan kepastian kepada anak bahwa mainannya akan kembali, sehingga mengurangi kecemasan akan kehilangan.
Validasi emosi juga memainkan peran krusial dalam fase egosentris ini. Saat anak menolak berbagi, orang tua bisa berkata, "Ibu tahu kamu sangat suka mainan ini dan belum siap meminjamkannya." Validasi ini membantu anak mengenali perasaannya sendiri. Studi dalam Journal of Child and Family Studies (2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang kebutuhan emosionalnya divalidasi oleh orang tua cenderung lebih mudah berempati kepada orang lain di masa depan. Empati adalah bahan bakar utama dari tindakan berbagi yang tulus, bukan karena takut dihukum atau haus pujian.
Lingkungan sosial di PAUD menjadi laboratorium pertama bagi anak untuk menguji konsep berbagi. Interaksi dengan teman sebaya memberikan umpan balik langsung; jika ia tidak mau berbagi, teman mungkin tidak mau bermain dengannya. Jurnal Developmental Psychology (2020) mencatat bahwa konflik memperebutkan mainan di sekolah sebenarnya adalah peluang belajar yang sangat berharga. Melalui mediasi guru dan orang tua, anak belajar menegosiasikan keinginan mereka dan memahami batas-batas kepemilikan orang lain, yang merupakan inti dari kecerdasan sosial.
Selain itu, orang tua perlu memberikan contoh nyata (modeling) dalam kehidupan sehari-hari. Anak adalah peniru ulung. Jika mereka melihat orang tua sering berbagi makanan, waktu, atau bantuan kepada orang lain dengan sukacita, mereka akan merekam bahwa berbagi adalah aktivitas yang positif. Buku Peaceful Parent, Happy Kids menyarankan agar orang tua sering melakukan narasi saat berbagi, misalnya, "Ayah punya dua jeruk, Ayah kasih satu untuk Ibu ya supaya kita bisa makan bareng." Narasi ini membantu anak memahami logika dan perasaan di balik tindakan prososial tersebut.
Pemberian pujian yang deskriptif saat anak berhasil berbagi juga sangat disarankan. Alih-alih hanya berkata "Anak pintar!", cobalah katakan "Lihat, wajah temanmu jadi senang karena kamu meminjamkan balok itu. Kamu hebat bisa menunggu giliran." Fokus pada dampak positif terhadap orang lain membantu anak menggeser perhatian dari dirinya sendiri ke orang lain. Riset dalam Child Development (2024) mengonfirmasi bahwa pujian yang berfokus pada karakter dan dampak sosial lebih efektif dalam membangun perilaku baik jangka panjang daripada sekadar hadiah materi.
Sebagai penutup, perjalanan dari sifat egosentris menuju kepedulian sosial adalah maraton, bukan lari cepat. Setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda. Dengan kesabaran, validasi, dan teladan yang konsisten, fase "milikku!" perlahan akan berubah menjadi "milik kita". Tugas kita sebagai orang tua bukan untuk menghilangkan sifat egosentris anak secara paksa, melainkan mendampingi mereka melewati fase tersebut dengan rasa aman hingga mereka siap untuk membuka tangan dan berbagi dengan tulus.
Referensi
Buku:
Piaget, J. (2015). The Language and Thought of the Child. Routledge (Edisi Klasik).
Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2020). The Whole-Brain Child. Delacorte Press.
Markham, L. (2021). Peaceful Parent, Happy Kids. TarcherPerigee.
Faber, A., & Mazlish, E. (2012). How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk. Scribner.
Gottman, J. (2018). Raising An Emotionally Intelligent Child. Simon & Schuster.
Jurnal:
Cowell, J. M., et al. (2022). "The Development of Generosity and Sharing in Early Childhood." Social Development.
Chernyak, N., et al. (2021). "The Roots of Reciprocity: How Children Learn to Share." Early Childhood Research Quarterly.
Smith, C. E., et al. (2023). "Empathy and Prosocial Behavior: A Longitudinal Study." Journal of Child and Family Studies.
Warneken, F. (2020). "The Developmental Origins of Human Collaboration and Sharing." Developmental Psychology.
Lu, J., et al. (2024). "Praise and Prosocial Behavior: A Meta-Analysis." Child Development.
Eisenberg, N., et al. (2021). "The Role of Emotion Regulation in Prosocial Development." Social and Personality Psychology Compass.
Yao, Z., & Enright, R. (2022). "Understanding Egosocentrism in Preschool Children." Journal of Genetic Psychology.
Rizzo, M. T., et al. (2020). "Children's Reasoning About Fair Resource Allocation." Developmental Science.
Dunfield, K. A. (2021). "Examining the Diversity of Prosocial Behavior." Current Opinion in Psychology.
House, B. R. (2023). "Universal and Variable Aspects of Prosocial Development." Current Directions in Psychological Science.
Ulber, J., et al. (2021). "Young Children’s Sharing Behavior with Friends and Non-friends." Journal of Experimental Child Psychology.
Blake, P. R. (2022). "The Ontogeny of Fairness." Nature Reviews Psychology.
Brownell, C. A. (2020). "The Development of Helpfulness and Sharing." Annual Review of Psychology.
Hepach, R. (2021). "The Arousal of Prosocial Motivation in Children." Advances in Child Development and Behavior.
