Mengenalkan literasi kepada anak usia dini sering kali terjebak dalam metode formal yang kaku, seperti dril kartu huruf atau tekanan untuk segera bisa membaca. Padahal, literasi sejati bukan sekadar kemampuan teknis mengeja, melainkan kemampuan memaknai simbol dan mencintai proses berbahasa. Dongeng sebelum tidur menawarkan medium yang sempurna untuk mengenalkan huruf tanpa paksaan, karena dilakukan dalam suasana yang rileks, penuh kedekatan emosional, dan rasa aman. Ketika anak merasa senang, otak mereka berada dalam kondisi paling reseptif untuk menyerap informasi baru, termasuk pengenalan bentuk-bentuk alfabet.
Secara neurobiologis, aktivitas mendongeng mengaktifkan jaringan luas di otak anak, mulai dari korteks visual hingga area pengolahan bahasa seperti area Wernicke dan Broca. Jurnal Pediatrics (2020) menunjukkan bahwa paparan buku cerita sejak dini secara signifikan memperkuat konektivitas fungsional di area otak yang mendukung citra visual dan pemahaman narasi. Saat orang tua menunjuk huruf-huruf tertentu sambil membacakan dongeng, anak mulai membangun korelasi antara bunyi (fonem) dan bentuk visual (grafem) secara intuitif. Inilah yang disebut dengan kesadaran cetak (print awareness), fondasi awal literasi yang sangat krusial.
