Kata-kata memiliki kekuatan untuk membangun sekaligus menghancurkan. Dalam pengasuhan anak usia dini, pemberian label atau labeling sering kali dilakukan orang tua secara tidak sengaja sebagai respons terhadap perilaku tertentu. Sebutan seperti "nakal" saat anak aktif, "pemalu" saat anak sedang mengobservasi lingkungan, atau "cengeng" saat mereka mengekspresikan emosi, sebenarnya adalah belenggu psikologis yang dapat membatasi potensi mereka. Label tersebut bukan sekadar kata sifat, melainkan proyeksi yang akan diinternalisasi oleh anak sebagai identitas permanen mereka.
Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai Self-Fulfilling Prophecy atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Ketika seorang anak terus-menerus disebut "nakal", otaknya mulai menerima informasi tersebut sebagai kebenaran mutlak. Jurnal Child Development (2024) menyoroti bahwa anak-anak usia PAUD memiliki konsep diri yang sangat plastis; mereka melihat diri mereka melalui cermin kata-kata orang tua. Jika cermin itu selalu menunjukkan label negatif, anak akan berhenti berusaha menjadi lebih baik karena merasa perilaku buruk adalah bagian dari jati dirinya yang tidak bisa diubah.
