Memperkenalkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada anak usia dini sering kali menjadi polemik antara tuntutan akademis dan kesiapan perkembangan mental anak. Berdasarkan buku The Joyful Learning Strategy (Herman, 2024), kunci utama belajar tanpa beban adalah dengan menyelaraskan materi dengan dunia bermain anak. Anak-anak secara alami memiliki rasa ingin tahu yang besar, sehingga calistung tidak boleh dipandang sebagai beban instruksional yang kaku, melainkan sebagai alat eksplorasi untuk memahami dunia di sekitar mereka secara lebih menyenangkan.
Penelitian dalam Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini (2022) menekankan pentingnya metode "Belajar Seraya Bermain" untuk menghindari stres kognitif. Ketika anak dipaksa duduk diam dan menghafal simbol tanpa makna, hormon kortisol dapat meningkat dan menghambat fungsi memori jangka panjang. Sebaliknya, melalui aktivitas fisik dan penggunaan media konkret seperti kartu huruf berwarna-warni atau balok angka, anak membangun koneksi saraf yang lebih kuat karena proses belajar terjadi dalam kondisi emosional yang positif dan aman.




