Kecemasan perpisahan merupakan manifestasi dari kelekatan emosional yang kuat antara anak dan figur otoritas utamanya. Bagi anak usia dini, sekolah adalah dunia baru yang asing dengan aturan dan wajah-wajah yang belum dikenal, sehingga wajar jika sistem alarm di otak mereka mendeteksi "ancaman" saat orang tua berpamitan. Mengelola fase ini bukan berarti menghilangkan rasa sedih anak sepenuhnya, melainkan membangun kepercayaan bahwa perpisahan hanyalah sementara. Dengan pendekatan yang konsisten dan penuh empati, kita dapat membantu anak meregulasi emosinya sehingga mereka merasa aman untuk bereksplorasi di lingkungan baru tanpa harus didera ketakutan yang berlebihan.
Secara neurobiologis, tangisan saat perpisahan dipicu oleh aktivitas amigdala yang intens, sementara korteks prefrontal anak belum cukup matang untuk menenangkan diri secara mandiri. Jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews (2023) menjelaskan bahwa respons stres ini dapat diredam melalui "ko-regulasi" emosi sebelum perpisahan terjadi. Hal ini berarti ketenangan orang tua sangat menentukan ketenangan anak; jika orang tua menunjukkan kecemasan melalui bahasa tubuh atau nada suara, otak anak akan menangkap sinyal tersebut sebagai konfirmasi bahwa situasi memang berbahaya. Oleh karena itu, kunci pertama adalah orang tua harus tetap tenang dan memberikan afirmasi positif bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.
